"Lihat apa yang kutemukan!" Anak laki-laki itu berjongkok di antara pepohonan rimbun di dalam hutan sambil menunjuk sesosok kucing hitam mungil yang sedang menggigil kedinginan.
"Cepatlah nak! Hari sudah mulai gelap!" Tuan Garret menghentikan langkahnya sambil menoleh ke belakang. Sementara itu, Edward mengulurkan tangannya untuk meraih gumpalan bulu yang terus menatapnya iba.
Setelah berhasil meraih binatang malang itu, Edward pun segera bergegas menyusul ayahnya sambil mendekap erat Onni, nama untuk si kucing yang seketika itu terlintas di benaknya. "Kasihan dia yah. Tubuhnya basah dan kedinginan."
"Untung saja kau melihatnya nak. Jika tidak, dia pasti akan mati malam ini." Tuan Garret menyahut. Kedua orang itu pun berjalan cepat meninggalkan hutan untuk kembali ke perkampungan.
Setelah berhasil meraih binatang malang itu, Edward pun segera bergegas menyusul ayahnya sambil mendekap erat Onni, nama untuk si kucing yang seketika itu terlintas di benaknya. "Kasihan dia yah. Tubuhnya basah dan kedinginan."
"Untung saja kau melihatnya nak. Jika tidak, dia pasti akan mati malam ini." Tuan Garret menyahut. Kedua orang itu pun berjalan cepat meninggalkan hutan untuk kembali ke perkampungan.
